Filosofi Kopi
Filosofi Kopi
Penulis : Dewi Lestari
Buku fiksi dari hasil karya Dewi Lestari yang akrab disapa Dee. Buku ini mencerikan tentang bagaimana perjuangan seorang yang memiliki hobi terhadap kopi dan memaknai kopi itu dari sudut pandang kehidupan. Dan tentu saja, pada buku ini ada cinta yang tetap menjadi topik paling diminati. Asas saling percaya antarsahabat, Jody memberikan tabungannya untuk memulai kedai kopi yang disebut Filosofi Kopi Temukan Diri Anda Di Sini. Ben termasuk salah satu peramu kopi atau barista terandal di Jakarta. Tak seperti kedai kopi lainnya, mereka membuka kedai di sebuah bar yang terletak di tengah-tengah dan membuat semua pengunjung dapat melihat aksi Ben saat membuat kopi. Kedai tersebut memiliki banyak pengunjung dan tentu saja pelanggannya juga merupakan penggemar kopi sejati. Kedai mereka sangat unik, pengalaman setiap penggunjung yang dibuat oleh Ben. Dia tidak hanya membuat kopi, tetapi ia juga menciptakan filosofi untuk setiap jenis ramuan kopinya. Seperti pada saat dia menyajikan Cappuccino kepada pelanggan wanita, Ben yang mengatakan bahwa Cappuccino membutuhkan standar penampilan yang tinggi dan tentu saja harus terlihat seindah mungkin. Btw Cappuccino ma fav:”) Oke lanjut…. Kemudian, pada sore hari di Kedai Ben kedatangan seorang pria dengan penampilan elegan. Pria itu menantang Ben untuk membuat secangkir besar kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: hidup ini sempurna. Minggu-minggu berlalu Ben mencari ramuan itu, namun sekitar tengah malam ia menghubungi sahabatnya Jody. Ben berhasil membuatnya “BEN’s PERFECTO” menjadi menu favorit di kedainya, hingga saat seorang pria baru baya yang meminum kopinya berkata “lumayan enak” dibandingkan kopi yang pernah dirasanya di pedesaan Jawa Tengah. Perkataan itu membuat Ben penasaran dengan kenikmatan kopi tersebut, sehingga Ben mengajak Jody untuk mencari rasa dari kopi yang pernah dirasakan pria paru baya tersebut. Mengikuti peta yang di berikan oleh pria tersebut, Ben dan Jody akhirnya menemukan warung reot berdiri di atas bukit kecil, ternaungi pepohonan besar. Yang membuat Ben berfikir bahwa tidak mungkin, tempat seperti tu
bukanlah tempat yang ideal untuk menanam kopi. Pemikiran tersebut seketika berubah saat Bendan Jody meminum kopi Tiwus. Kopi yang memiliki rasa sempurna dan ada cerita serta filosofi yang menarik dari kopi tersebut. Ben merasa gagal setelah mencoba kopi Tuwis tersebut. Dengan perasaan putus asa, Ben kembali ke Jakarta. Jody turut perihatin dengan keadaan Ben yang seperti itu, sehingga Jody mencari cara untuk menghibur sahabatnya. Jody yang kembali ke warung reot tersebut berencana untuk mempelajari ramuan kopi Tuwis yang dibuat oleh pak Seno. Setelah berhasil mempelajarinya, Jody juga berhasil menghidangkan kopi tersebut kepada Ben dengan sebuah kartu yang bertuliskan “Kopi yang Anda minum hari ini Adalah: “Kopi Tiwus. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”. Ben yang sadar bahwa selama ini ia mengambil jalan hidup yang salah. Ben yang merasa bahwa kopinya menjadi satu yang terbaik di dunia, Ben pun juga sadar bahwa hidup ini tidak ada yang sempurna. Dan akhirnya Ben kembali melanjutkan perjuangan serta hobinya di kedai filosofi kopi, dan tentu saja bersama sahabatnya Jody.
Oleh : Anisah Chikal ( Departemen Humas FEB-UH 2019/2020)