Revolusi Dari Secangkir Kopi

Awal saya mendapatkan buku ini pada saat kunjungan saya ke toko Alfarabi. Yang membuat saya tertarik akan buku ini yaitu judulnya “Revolusi dari Secangkir Kopi”. Saya berpikir apa hubungan sebuah revolusi dari secangkir kopi. Dengan gambar kopi hitam yang pekat asumsi awal saya mungkin karena perjuangan untuk melakukan sebuah revolusi itu pahit dan pekatseperti kopi ataukah kopi di tangan kanan dan revolusi di tangan kiri. Buku ini adalah jenis novel dengan jumlah halaman 443, cukup tebal tapi tidakmembosankan malah membuat pembaca untuk terus mengikuti alur ceritanya ditambah dengan bahasa yangdigunakan sangat ringan. Buku ini merupakan sebuah kisah perjuangan heroic penulis dan teman-temannya di ITB pada tahun 90-an. Dimulai dari proses kaderisasi,pembentukan pola piker kritis, dan aksi turun ke jalan yang selalu tak pernah alpa di setiap jalanan besar Bandung. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan cetakan pertama pada bulan September 2014 dan ditulis oleh Didik Fotunadi. Didik Fotunadi lahir dan besar di Blitar dan merupakan lulusan Teknik Geologi ITB. Sejak awal mahasiswa, Didik sudah menceburkan diri di dunia aktivis mulai dari menjabat sebagai pemimpin organisasi mahasiswa fakultas sampai tingkat universitas dan berbagai organisasi eksternal lainnya. Revolusi dari Secangkir Kopi adalah novel
perdananya. Novel ini bercerita tentang kehidupan penulis sendiri semasa dia menjadi mahasiswa di ITB dan ikut dalam berbagai aksi di jalanan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Karena novel ini merupakan sebuah kisah dari penulis sendiri membuat saya sebagai pembaca merasakan bahwa kejadian-kejadian dalam novel ini sangat erat dengan dunia pergerakan mahasiswa sekarang. Buku ini menceritakan bagaimana Didik menjalani masa gap year karena ditolak di FSD ITB saat dia mendaftar, menolak masuk kampus swasta dengan bantuan orang dalam hingga akhirnya tahun berikutnya dia diterima di Teknik Geologi ITB. Awal orientasi maba, Didik mengikuti berbagai tahapan pengaderan di kampusnya. Menjadi anggota dari PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyrakatan) membuat Didik lebih mengasah pola pikir kritisnya. Buku ini juga menceritakan tentang berbagai masalah-masalah yang ada di kampus dan menurut
saya masih seksi untuk kampus hari ini. Seperti skorsing karena mengkritik pihak rektorat, aksi mogok makan dan bayar KTM, dihadang oleh para tentara dengan berbagai ancaman, mahasiswa diinterogasi dan disekap karena ikut aksi demonstrasi di jalan, kebijakan NKK/BKK yang menuai kritik dan protes dari mahasiswa, hingga pergerakan yang mencapai puncaknya saat menggulingkan Soeharto dari kursi pemerintahannya. Semua peristiwa ini memaksanya mengalami perang batin antara kesetiaan di jalur pergerakan mahasiswa dan pesan sang ibunda tentang jalur “murni” belajar di kampus. Namun, dia pelan-pelan memahami gerakan besar dan massif mungkin hanya dimulai dari langkah-langkah kecil. Bahkan langkah kecil itu dimulai dari pertemuan satu-dua orang, ngobrol ngalor-ngidul. Pendeknya revolusi itu bisa datang dari obrolan secangkir kopi.
Novel ini tidak hanya bercerita tentang heroism gerakan kemahasiswaan, tetapi juga
pergulatan pribadi Didik dalam pencarin jati diri, kemurnian persahabatan dan cinta, dan ikatanemosi serta tanggung jawab orangtua dan anak. Buku ini menuai banyak apresiasi positif dariberbagai pihak. Buku ini cocok untuk bahan bacaan mahasiswa baru.
Semoga selalu bahagia lahir dan batin.
With Love, Jushandra Pulung Karoma’

Oleh : Jushrandra Pulung Karoma ( Departemen Pengaderan Sema FEB-UH 2019/2020)

Add a Comment

Your email address will not be published.