LINTAS BUKU JILID VI
LINTAS BUKU JILID VI
Judul Buku : Bergeraklah Mahasiswa
Penulis : Eko Prasetyo
Waktu : Selasa, 26 Maret 2019
Tempat : Student Centre FEB-UH
Moderatoer : A. Hendra
Notulen : Hilda
Bab I Prolog : Bergeraklah Mahasiswa
Pada bab ini penulis membandingkan pergerakan mahasiswa di masa lalu dan sekarang. Juga membicarakan tentang perbandigan antara mahasiswa yang menggunakan waktunya hanya untuk belajar di kelas dan mahasiswa yang ingin mengetahui realistas-realitas sosial yang ada disekitarnya dengan mengikuti organisasi mahasiswa.
Bab II Haruskah Kita Kuliah Hanya Mengejar Nilai ?
Pada bab ini diceritakan beberapa kisah orang-orag yang memiliki nilai tertinggi di kelasnya. Salah satunya kisah hidup Christopher yang cerdas karena di usia yang tergolong masih sangat muda, Christopher mampu menamatkan buku filsafat dan berbagai prestasi lainnya yang mampu dia raih dengan muda. Tidak heran lagi, pada masa kuliah Christopher memperoleh nilai yang tinggi namun setelah lulus kuliah, kehidupan Christopher tidak jauh berbeda dengan teman-temannya yang memperoleh nilai biasa-biasa saja. Christopher menjadi pengangguran. Kisah Christopher membuktikan kecerdasan yang tinggi tidak menjamin kesuksesan di masa depan, namun hanya menandakan bahwa dia mempunyai banyak waktu luang untuk mengulangi pelajaran dan hal ini tidak memicu kreatifitas seseorang.
Bagaimana dengan orang-orang yang sekolahnya tidak beres seperti Steve Jobs, Isaac Newton, dll? Mereka merupakan orang-orang yang berusaha melawan atau menjadi seorang pembangkang terhadap sistem perkuliahan di kampus. Mereka bergerak, memiliki pemikiran, dan tindakan yang berbeda dengan orang umum.
Kenapa mahasiswa mau melakukan sesuatu yang umum? Berdasarkan hasil riset, jawaban dari pertanyaan tersebut didominasi oleh alasan pengaruh lingkungan dan mentaitas kelompk yang mengarahkan orang-orang untuk patuh karena adanya anggapan bahwa yang patuh itu yang akan berhasil kelak.
Jadi apa tugas kuliah sebenarnya? Orang-orang yang ada ditahap perkuliahan seharusnya memiliki pandangan yang kritis dan pemberani karena idealnya perkuliahan tidak menciptakan penguasa tetapi menciptakan pembaharu yang bisa merevolusi pikiran masyarakat yang beku dan kacau.
Bab III Gerakan Mahasiswa Mau Kemana?
Menurut pandangan kritis yang berani dan menunjukkan komunitas kerohanian yang kesimpulannya bahwa agama mampu menjadi pemersatu tetapi rentan untuk dimanifestasi oleh kepentingan lain. Solusi yang ditawarkan yaitu kampus sebagai miniatur Negara seharusnya mampu mendorong mahasiswa untuk melihat lebih rinci dan dalam untuk mengetahui kondisi sekitarnya bukan hanya menjadi kerumunan atau sekumpulan saja.
Organisasi mahasiswa dibutuhkan untuk menjadi saranayang dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan berbicara. Oleh karena itu, pergerakan mahasiswa dahulu dianggap berbahaya bagi pemerintah karena mengkrtik dan menuntut keadilan diberbagai bidang.
Bab IV Surat Terbuka Untuk Bapak/Ibu Dosen
Dosen hari ini berbeda dengan lalu karena hari ini dosen lebih terkenal: muncul di Koran, majalah, televise, dan media massa lainnya. Dosen menjadi sulit ditemui dan sulit diajak berdiskusi. Bahkan dosen sepakat bahwa mahasiswa harus patuh dan mencurigai segala bentuk tindakan dari mahasiswa yang cenderung kiri dan kritis.
Dosen ikut membangun paradigma kepatuhan. Saat ini dosen mendukung mahasiswa yang mengikuti lomba, mendapat prestasi yang dapat mengangkat citra kampus. Dosen menganggap untuk apa mahasiswa melakukan demonstrasi dan untuk apa aksi yang tidak berguna? Hanya membuang waktu dengan sia-sia, katanya. Masalah budaya ilmiah yang tidak lagi digiatkan oleh para dosen. Dan dosen saat ini tidak lagi membimbing untuk menghantarkan nilai-nilai kemanusiaan dan memotivasi mahasiswa. Seharusnya dosen mampu membuat penelitian dalam bentuk tulisan yang dapat dimengerti semua segmen masyarakat umum bukan hanya kalangan akademisi.
Bab V Menjadi Aktivis
Beberapa pandangan dari orang-orang yang mempunyai keresahan namun tidak mempunyai apa-apa untuk melawan seperti Wiji Thukul dan Minke yang merupakan orang-orang yang mengamati bagaimana kemapanan terbentuk. Pada bab ini juga menunjukkan kelakuan para aktifis yang dianggap kontradiktif. Contoh nyatanya seperti, mahasiswa yang menjadi demonstran yang menutut keadilan, namun mahasiswa tersebut masih melakukan hal-hal kecil yang tidak adil seperti menitip absen di kelas. Ada juga mahasiswa yang membela neoliberalisasi pendidikan namun terlibat mendukung kegiatan yang mensukseskan neolib tersebut. Hal ini membuktikan bahwa keyakinan dan wilayah gerak belum konsisten.
Bab VI Wawasan Imaginer dengan Albert Einstein
Tahun 1920-an tentang Albert Einstein. Einstein mencoba memahami dirinya dan alam semesta. Dan menemukan bahwa agama dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat. Kuliah harus membentuk diri melalui pengetahuan. Kemampuan yang mendukung kepatuhan dan tidak boleh menjadi kiri serta cara pandang yang tidak holistik menjadi penghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu, sebagai mahasiswa dituntut untuk memiliki kebebasan berpikir supaya bisa menilai yang mana benar dan salah untuk mendobrak kepatuhan.
Bab VII Kebebasan Akademik yang Terancam
Prasangka-prasangka buruk tetang aktivis yang memunculkan stigma bahwa kampus menjadi ancama karena telah menjadi gudang pemikiran kiri. Bahkan kampus jaman dulu melarang diskusi-diskusi internal dan pemutaran film yang berbau pergerakan yang diadakan oleh mahasiswa karena dianggap membela PKI. Kampus membatasi mahasiswa dan memberikan sanksi bagi yang melanggarnya.
Bab VIII Seni dan Sastra : Modal Gerakan Mahasiswa
Seni dan sastra menjadi modal baru dari pergerakan. Saat ini, mahasiswa telah memiliki akses yang bebas untuk mengkonsumsi seni dan sastra. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik bagi para aktivis dan menjadi gerakan alternatif baru.
Bab X Selamat Datang Mahasiswa Baru
Di kampus apresiasi diberikan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik sehingga mendorong kita untuk berkompetitif dan tidak mendukung pergerakan kolektif. Mahasiswa menjadi patuh dan tidak hanya patuh pada kepercayaan tetapi juga akal yang dipenuhi kecurigaan-kecurigaan. Menurut penulis, seharusnya mahasiswa langsung turun menghadapi masalah disekitarnya dan mendiskusikannya. Saat ini mahasiswa tidak dapat membangun rasa kepeduliaan manusia. Kepercayaan tersebut tidak mudah dibangun karena kebanyakan mahasiswa menganut prinsip kalkulator dimana memperhitungkan segala hal yang telah mereka korbankan dengan materi dan harus memperoleh keuntungan yang lebih besar dari apa yang telah mereka korbankan.
Kebanyakan dari mereka yang memiliki IPK tinggi tidak tahu tentang masalah sosial sebenarnya karena mereka tidak dihadapkan langsung dengan masalah yang ada. Tidak adanya ide dan keberanian yang hidup dalam diri pribadi menjadi faktor penghambat mahasiswa untuk bergerak.
Diskusi
| Ivan | Tulisan bisa menjadi salah satu hal yang penting dalam pergerakan karena bisa mengontrol hegemonik orang, sehingga mengkritiki tulisan itu perlu. |
| Rama | Dalam hal gerakan, kita butuh pengetahuan yang dapat memancing pergerakan kolektif. Namun saat ini tidak dapat dipungkiri kalau kita masih bingung menentukan arah dan tujuan pergerakan. Jadi butuh pengetahuan tentang realitas yang ada dan menjalankan yang kita anggap benar. |
| Tias (Himahi) | Kemampuan gerakan alternatif dan menulis menjadi salah satu peran penting media pers. Tujuannya harus berani mengungkapkan apapun. |
| Angga | Sekarang nyatanya, lembaga pers tidak memberikan dukungan sebagaimana mestinya. |
| Mannawa Faraby | Kenyataannya gerakan alternatif seperti membaca, menulis dan berdiskusi sama saja dengan kampus bahkan kampus memiliki daya tawar yang lebih besar dan menarik karena bisa memenuhi kebutuhan individu, berbeda dengan germas yang tidak dapat menjamin hal tersebut. Gerakan alternatif seharusnya punya bargaining power yang lebih besar yang berbentuk ekonomi kolektif yang mampu memenuhi kebutuhan. Untuk sisi sumber daya manusia juga tidak ada alternatif yang bisa setara dengan peran dosen. Salah satu tawaran gerak alternatif yang membutuhkan peran alumni untuk memberikan dukungan finansial guna membantu organisasi mahasiswa untuk menyediakan bargaining power yang mampu memenuhi kebutuhan biologis manusia. |
| Desi | Gerakan Mahasiswa hari ini, membutuhkan konsistensi dan output yang diinginkan harus jelas. Pengetahuan yang tidak terinternalisasikan dengan baik bisa menjadi faktor penghambat. Dibutuhkan penanaman nilai lebih jelas, rinci, dan konsisten. |