Hasil Kajian Isu Strategis (KASUS) Bagian VI

Pergerakan sejatinya bertujuan untuk memperbaiki suatu kondisi dan keadaan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual memiliki potensi yang perlu dimanfaatkan dalam memberi solusi dari permasalahan yang ada di masyarakat. Nilai yang sempurna seharusnya bukan menjadi fokusan mahasiswa tetapi bagaimana ia peka terhadap kondisi sosial yang ada. Dalam buku berjudul “Bergeraklah Mahasiswa” yang ditulis oleh Eko Prasetyo menjelaskan bahwa seseorang yang patuh dan mengusai pembelajaran bahkan mempelajari filsafat tidak menjamin kehidupannya akan sukses dan berkembang. Berdasarkan hal tersebut kampus seharusnya dapat mengajarkan mahasiswa bagaimana melihat realitas kehidupan sosial bukannya memaksa mahasiswa untuk patuh. Idealnya, kuliah bukan untuk menjadi penguasa baru tetapi kuliah  adalah untuk menciptakan pembaharu yang lebih baik yang bisa merevolusi pikiran masyarakat yang beku dan kacau. Untuk itu, mahasiswa dituntut untuk memiliki kebebasan berpikir supaya bisa menilai yang mana benar dan salah untuk mendobrak kepatuhan.

            Dalam bukunya tersebut, Eko Prasetyo juga membahas tentang kebebasan akademik yang terancam. Organisasi mahasiswa menjadi sarana yang dibutuhkan untuk dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan berbicara. Itulah yang akan mendukung mahasiswa dalam melakukan pergerakan. Pergerakan mahasiswa sendiri dianggap berbahaya bagi pemerintah karena seringnya mengkrtik dan menuntut keadilan di berbagai bidang. Prasangka-prasangka buruk tentang aktivis telah memunculkan stigma bahwa kampus menjadi ancaman karena telah menjadi gudang pemikiran kiri. Oleh karena itu, kampus membatasi mahasiswa dan memberikan sanksi bagi yang melanggarnya.

            Saat ini, mahasiswa telah memiliki akses yang bebas untuk mengkonsumsi seni dan sastra. Seni dan sastra menjadi sebuah modal baru untuk pergerakan. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik bagi para aktivis dan menjadi gerakan alternatif baru. Dalam hal gerakan, kita butuh pengetahuan yang dapat memancing pergerakan kolektif. Tulisan bisa menjadi salah satu hal yang penting dalam pergerakan karena bisa mengontrol hegemonik orang. Jadi butuh pengetahuan tentang realitas yang ada dan menjalankan yang kita anggap benar.

Kenyataannya gerakan alternatif seperti membaca, menulis, dan berdiskusi sama saja dengan kampus bahkan kampus memiliki daya tawar yang lebih besar dan menarik karena bisa memenuhi kebutuhan individu. Berbeda dengan germas yang tidak dapat menjamin hal tersebut. Gerakan alternatif seharusnya punya bargaining power yang lebih besar yang berbentuk ekonomi kolektif yang mampu memenuhi kebutuhan. Untuk sisi sumber daya manusia juga tidak ada alternatif yang bisa setara dengan peran dosen. Salah satu tawaran gerakan alternatif yaitu membutuhkan peran alumni untuk memberikan dukungan financial guna membantu organisasi mahasiswa untuk menyediakan bargaining power yang mampu memenuhi kebutuhan biologis manusia.

Kemampuan gerakan alternatif melalui tulisan menjadi salah satu peran penting media pers. Prinsipnya harus berani mengungkapkan apapun. Nyatanya sekarang, lembaga pers tidak memberikan dukungan sebagaimana mestinya. Karenanya dibutuhkan penanaman nilai lebih jelas, rinci, dan konsisten. Pengetahuan yang tidak terinternalisasikan dengan baik bisa menjadi faktor penghambat dalam gerakan. Untuk itu gerakan mahasiswa hari ini membutuhkan konsistensi dan memberikan output yang jelas.

Add a Comment

Your email address will not be published.