Gadis Cilik di Jendela
Gadis Cilik di Jendela
Saat tau bahwa buku ini ditulis pada kisaran tahun 1982 dan masih beredar bahkan masih dicetak pada tahun 2017, seketika saya berfikir bahwa buku ini pasti memiliki keunggulan tersendiri. Yaa! Dan itu terbukti ketika buku ini habis terbaca.
Buku ini secara sederhana menceritakan pengalaman masa kecil sang penulis, Tetsuko Kurayugi. Totto chan merupakan nama kecilnya dan buku ini secara penuh merangkum episode-episode kehidupan masa kanak-kanaknya, menghadirkan cerita tentang awal usia sekolahnya, teman-temannya, sang mama, juga anjing peliharaannya Rocky, namun sebenarnya buku ini ia dedikasikan untuk mengenang sekolah yang sangat ia sukai yaitu Tomoe Gakuen dan sang Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi atau Mr.Kobayashi.
Buku ini diceritakan dengan sudut pandang seorang anak kecil, Totto Chan yang penuh dengan kepolosan, dia anak yang ceria dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kebanyakan orang menganggap dia anak yang nakal karena hiperaktifnya sehingga guru-guru disekolahnya merasa tidak sanggup lagi menghadapi Totto Chan, alhasil dia dikeluarkan dari sekolah setelah bertingkah sangat banyak dan membuat guru dikelasnya menyerah. Misalnya saja ketika gurunya bercerita kepada ibu Totto-chan mengenai salah satu tingkah aneh anaknya tersebut:
“Kemarin, Totto Chan berdiri di depan jendela seperti biasanya, dan saya berpikir ia menunggu pengamen jalanan yang biasanya lewat. Saat itu tiba-tiba ia memanggil seseorang di luar jendela, “Apa yang kamu lakukan!?” Saya tidak dapat melihat dengan siapa dia berbicara, saya bingung dengan apa yang dilakukan nya. Kemudian ia memanggil nya lagi, “Apa yang kamu lakukan !?” Sepertinya tidak ada seorang pun diluar sana. Saya sungguh penasaran, saya mencoba mendengar balasan nya, tapi saya tidak mendengar apapun. Anak kamu terus memanggil, “Apa yang kamu lakukan !?” dan saya tidak dapat mengajar, jadi saya pergi ke jendela untuk melihat dengan siapa anak kamu berbicara. Ketika saya meluruskan kepala saya keluar jendela, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang nya dibawah genteng ruang kelas. Totto Chan berbicara dengan burung walet!”
Itu baru satu, belum tingkah lucu dan aneh lainnya yang dilakukan oleh Totto-Chan. Saya sangat suka cara Tetsuko menceritakan setiap detil kepolosan. Manis, lucu, dan ringan. Setiap kelakuan polos dan nakal yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah tertera di bab awal tentang “Gadis Kecil di Jendela” dan membacanya mampu menjadi pembuka cerita yang segar untuk melanjutkan membaca episode lain dari Totto-Chan.
Akhirnya, Totto-Chan dipindahkan ke sekolah baru. Namanya Tomoe Gakuen dan segala yang ada disana sangat unik, tidak ditemukan disekolah lainnya pada masa itu. Mulai dari gerbang sekolah yang secara umum akan dibangun menggunakan beton, namun di Tomoe gerbangnya berupa dua batang kayu yang memiliki ranting dan daun. Ruangan kelasnya sangat berbeda, bagaimana tidak? Itu adalah gerbong kereta yang tidak terpakai lagi kemudian di sulap menjadi ruang kelas yang menyenangkan. Sekolah ini didirikan oleh Sosaku Kobayashi sekaligus menjadi kepala sekolah saat itu.
Mr. Kobayashi adalah sosok yang menyenangkan, terlihat dari bagaimana ia mampu memperlakukan anak-anak dengan sangat baik, bahkan saat Totto-Chan pertama kali datang dan diminta untuk bercerita dengannya, ia sanggup mendengarkan Totto-Chan selama 4 jam penuh tanpa memperlihatkan raut bosan atau mengantuk. Karena itulah Totto-Chan sangat senang dengan kepala sekolahnya ini.
Kepala sekolah mendirikan sekolah dan semua sistem pembelajarannya sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya, ia paham betul bahwa usia kanak-kanak adalah usia krusial pembentukan karakter, sikap, dan passion. Untuk itu, program belajarnya tidak ia atur layaknya sekolah umum, hari senin harus belajar berhitung, lalu hari selasa belajar menggambar, lalu esoknya belajar membaca. Bukan program seperti itu yang dirancang oleh Mr.Kobayashi. Disekolahnya anak-anak diijinkan memilih pelajaran apa yang akan ia pelajari hari itu, guru tinggal menulis di papan daftar pelajaran yang bisa dipelajari hari itu dan anak-anak secara bebas memilihnya, ketika menemukan hambatan ia boleh bertanya pada gurunya, dan begitulah setiap harinya. Sistem ini sengaja ia berlakukan untuk mempersiapkan anak didiknya agar mampu melakukan apa yang ia senangi dan menjad ahli di bidang tersebut, juga untuk menemukan bakat yang ada pada diri mereka.
Bukankah ini sistem yang menarik? Menyedari bahwa usia anak sekolah dasar memiliki kecenderungan untuk tertarik belajar namun sambil bermain, lalu membuat mereka mampu menentukan pilihan mereka sendiri untuk hal-hal yang ia senangi tanpa ada suruhan atau paksaan dari guru atau program pembelajaran, bukan saja berdampak pada passion mereka, namun juga kepercayaan diri karena mereka melakukan apa yang ia senangi.
Mr.Kobayashi merupakan pendidik yang baik. Dia memiliki konsep ideal mengenai cara mendidik anak-anak dan sangat mencintai mereka. Atas dasar itu, ia kemudian mendirikan sekolah Tomoe. Dari setiap episode, tergambar bahwa Mr.Kobayashi mampu menjadi sosok yang mengayomi dan begitu penyayang. Dari beberapa guru yang menghadapinya hingga menyerah, Mr.Kobayashi dengan caranya sendiri mampu mengahadapi dan membangun rasa percaya diri pada Totto-Chan.
“Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu,kan?” itu yang selalu dikatakan kepala sekolah pada Totto-Chan setiap kali berpapasan. Dan setiap kali Kepala Sekolah mengatakannya, Totto-chan tersenyum, melompat rendah, lalu berkata “Ya, aku memang anak baik” Dan dia mempercayai kata-kata itu.- hal.187
Mr.Kobayashi yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan atau pengaruh buruk orang dewasa. Mr.Kobayashi kemudian berusaha menemukan “watak baik” tersebut dan berusaha mengembangkannya agar mereka tumbuh dengan kepribadian yang baik melalui sekolah yang ia dirikan tersebut.
Buku ini adalah representasi yang tepat untuk menemukan sosok ideal pendidk bagi anak-anak. Dalam buku ini, Mr.Kobayashi mampu secara penuh menghadapi segala jenis karakteristik dan kepribadian berbeda dari masing-masing muridnya. Anak hiperaktif dan polos seperti Totto-Chan, anak dengan keterbatasan fisik seperti Akira Takahashi, anak pendiam, dan masih banyak karakter lain. Kita hanya perlu menggali lebih dalam akan potensi mereka, dan masa kanak-kanak adalah masa yang paling tepat untuk menemukan itu. Bahasa yang digunakan sederhana dan tatanan bahasanya mampu menjelaskan setiap detil dengan beberapa unsur humor yang melekat. Sangat direkomendasikan untuk orang tua, calon orang tua, sebagai bahan cerita bagi anak-anak, bagi guru, volunteer, dan siapapun.
Dari sini kita juga kembali disadarkan bahwa peran guru dalam mendidk dan mengasah karakter akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam kenangan kita. Bahkan satu kalimat darinya mampu membangkitkan kepercayaan diri kita dan akan terbawa hingga dewasa. Niat mulia mereka untuk mendidik sangat pantas kita abadikan layaknya Tetsuko Kuroyanagi mengabadikan momen dan mendedikasikan buku Totto-Chan ini bagi mendiang Pendidiknya, Mr.Kobayashi.
Sincelery, Nur Aziza Jamil