Brief Review Buku “Ngenest”
Buku “Ngenest – ngetawain hidup ala Ernest” ini menceritakan tentang kehidupan masa lampau sang penulis. Pengalaman-pengalaman dari yang menyenangkan seperti lika liku kisah percintaan sampai bertemu pujaan hati yang sampai sekarang menjadi istrinya, hingga pengalaman yang tidak mengenakkan seperti pembullyan yang didapatkan saat bersekolah karena menjadi ras minoritas, dan perlakuan deskriminasi yang kerap didapatkan oleh ernest sendiri.
Adapun nilai-nilai yang dapat dipetik antara lain:
- Nilai sosial : seperti yang diceritakan bahwa sang penulis kerap mendapatkan pembullyan saat sekolah dulu karena menjadi kaum minoritas. Bentuk pembullyan yang biasa dilontarkan berupa panggilan cina kepada ernest dan selalu menjadi korban palak teman-teman dan senior-senior karena anggapan bahwa orang cina itu kaya.
- Nilai kemanusiaan : salah satu bab dari buku pernah menjelaskan mengapa ernest tidak suka dipanggil Cina oleh orang lain karena seperti kata penulis, panggilan itu seperti membuka luka lama , dimana dulunya kaum cina benar-benar mendapatkan pendeskriminasian, salah satunya di era orde baru .
- Nilai politik : di salah satu bab buku menjelaskan kekaguman penulis terkait salah satu tokoh publik beretnis tionghoa yang terangkat menjadi gubernur DKI Jakarta yaitu “Ahok” . Penulis begitu kagum karena dari sekian lama akhirnya ada orang cina yang berhasil menduduki jabatan gubernur, ini menandakan bahwa kaum tionghoa juga bisa memimpin.
- Nilai moral : penulis menanamkan pendidikan seks secara dini kepada anaknya agar saat besar nanti anaknya sudah tahu bagaimana selak beluk seks dan tidak merasa kaget. Saya rasa ini juga satu langkah awal yang baik sebagai orang tua untuk menghindari anak dari pergaulan bebas dengan pengetahuan akan dampak dari seks bebas
Berbicara mengenai hubungan dari isi buku dengan kehidupan pembaca yakni akuJ . dari segi sosial dengan yang dirasakan dengan si penulis yakni pembulliyan, pembaca pernah mengalami pembullyan karna warna kulit yang tergolong gelap, dan juga hal-hal kecil yang dilakukannya dan dianggap lucu oleh orang lain seperti saat berbicara terkadang pembaca mengalami typo atau mengeluarkan dialeg khas daerahnya , maka respon dari teman pembaca biasa hanya ketawa, ketawa sih bukan hal yang aneh , yang aneh kalau temannya itu terus mengulangi dialek atau typo dengan sengaja untuk mengganggu -_-. Untuk masalah etnis, saya lebih suka berteman dengan orang yang berbeda-beda baik dari unsur agama ataupun etnis , karena disitulah saya dapat belajar tentang hal-hal baru yang tak pernah saya ketahui sebelumnya, seperti budaya dalam agama ataupun negaranya. Dalam buku juga, di jelaskan lika liku perjalanan cinta penulis, berhubung penulis seorang lelaki , jadi setidaknya saya tahu bagaimana menghadapi lelaki jika dihadapkan dengan kondisi yang sama seperti yang diceritakan penulis.
Oleh: Dinda Masyita, Akuntansi 2017.