“Saya Belajar Banyak di Kampus”

“Universitas seyogianya adalah sebuah institusi untuk belajar dan membelajarkan”

 Mungkin saat ini banyak yang menganggap jika hal yang saya tulis diatas telah menjelma menjadi utopia semata. Hegemoni, fasisme, pelecehan terhadap pendidikan, kekerasan akademik, dan sejuta hal lain yang banyak digunakan untuk menggambarkan keadaan kampus saat ini.

Kampus menurut KBBI dapat diartikan sebagai daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar mengajar dan administrasi berlangsung.

Jadi kawanku—yang semoga masih mengerti arti kebahagiaan, izinkan aku bertanya padamu. Apakah kampus saat ini tidak lagi melakukan kegiatan belajar mengajar dan administrasi? ‘Ah, semua kegiatan itu hanya sebatas formalitas kok. Tidak lebih’.

Seringkali saya juga menganggap semua kegiatan perkuliahan yang saya lakukan di kampus hanya sebatas formalitas. Namun, rasanya terlalu dermawan jika ‘formalitas’ itu harus saya tebus dengan UKT yang tidak sedikit. Ha-ha, maaf saja. Saya tidak bisa duduk tenang menikmati dinginnya ruang kuliah jika saya terus memikirkan hal lain yang bisa saya dapatkan dengan nominal uang yang sama.

Dan kadang, hal yang lebih menyedihkan adalah daya yang saya miliki tidak cukup untuk mengubah kondisi ini. Sehingga hal yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah mengubah sudut pandang.

Kampus masih melakukan kegiatan belajar mengajar dan administrasi. Dan yang dilakukan itu bukan sekedar formalitas. Di sekolah dasar atau di taman kanak-kanak mungkin kita diajarkan kebaikan dengan melihat  yang dicontohkan oleh guru-guru dan orang dewasa lainnya. Begitu pun dengan SMP dan SMA. Dan rasanya model pembelajaran seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membedakan mana yang baik dan buruk, bukan?

Sekarang kita berada ditingkatan tertinggi ‘pendidikan’, katanya. Model pembelajarannya harus lebih ‘menantang’, bukan? Jika ada yang menganggap kampus tidak lagi menjadi tempat belajar, kalian mungkin keliru. Nilai keilmuan, nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai luhur lainnya masih mengalir di kampus. Hanya saja dengan cara yang berbeda.

Jika kalian merasakan ketidakadilan, maka kampus menunjukkan seperti apa jika kalian hidup tanpa nilai keadilan. Bagaimana manusia lain memandang kalian dengan marah. Jika kalian merasa muak dengan fasisme, kampus menunjukkan bagaiman orang lain akan memperlakukan para fasis. Jika kalian merasa enek dengan keserakahan, kampus menunjukkan bagaimana sesungguhnya ketamakan hanya akan mendatangkan musuh. Jika kalian merasa tidak berdaya, kampus menunjukkan seperti apa jika suatu entitas menjadi lebih superior dari entitas yang lainnya. Dan bagaimana sesungguhnya entitas superior itu dilecehkan oleh entitas lainnya.

Ada banyak hal lain yang sesungguhnya masih diajarkan oleh kampus. Kadang kala, sesuatu diciptakan untuk menunjukkan betapa buruknya hal itu. Merasa familier dengan kalimat itu, kawanku?

Yah, ini hanya sedikit keresahan yang mengendap. Mungkin diantara kalian ada yang merasakan keresahan yang sama.

Panjang umurlah pergerakan, dan kalian yang berjuang dijalannya.

 

4 Februari 2018

 

Oleh: Aim (Mahasiswa yang Ingin Lulus)

Add a Comment

Your email address will not be published.