Media Sosial, Kedangkalan Berpikir, dan Tumbuhnya Gerakan Ekstrimisme

“Musuh kita bukanlah siapa-siapa, dia berada dalam diri kita sendiri. Dia adalah kesempitan dan kedangkalan. Kalau kita berpikir secara sempit dan menghayati secara dangkal, kita akan sangat mudah berbenturan satu sama lain”

Emha Ainun Nadjib

 

 

                Sering sekali kita melihat anak kecil bertingkah lucu menirukan superhero idolanya. Jika mereka mengidolakan Spiderman mereka akan menirukan cara berpakaiannya, mengelurkan tangannya seakan akan keluar jaring dari tangannya, menempel di dinding, dan mungkin juga menirukan apa yang Spiderman katakan. Tanpa berpikir panjang mereka menirukannya dengan penuh kegirangan dan hal itu memang lucu, namanya juga anak-anak. Tidak bisa kita bayangkan jika hal tersebut dilakukan oleh orang dewasa. Hal yang tadinya lucu mungkin saja akan menjadi menjijikan.

Hari ini kita bisa melihat tindakan tiru meniru, bukan superhero, idolanya. Mereka menirukan gerakannya, fashionnya, dan bahasanya. Kita bisa melihat bagaimana anak muda menirukan artis K-Pop idolanya. Media sosial memiliki peran penting dalam penyebaran informasi tersebut. Namanya juga medsos segala informasi hadir di dalamnya, tidak ada lagi batas-batas suatu negara, tidak ada lagi batas-batas privasi dalam dirinya. Semua orang dapat mengakses medsos dan semua orang juga mampu meng-update status dengan mudahnya, tanpa syarat. Seperti kata facebook “Apa yang sedang anda pikirkan?”, apapun yang sedang kita pikirkan entah salah atau benar tak menjadi soal.

Media sosial telah menjadi pusat informasi, pusat pertemuan-percakapan, dan telah menjadi tempat pertempuran eksistensi. Pertempuran eksistensi ini membawa masyarakat gila dan kegirangan untuk meng-update apa saja yang mereka lakukan, memberikan standar-standar baru tentang kasta sosial yang paling tinggi dan terbaik. Bukan hanya itu saja, media sosial juga menjadi tempat pertempuran eksistensi dari suatu ideologi kelompok. Saling membantahkan argumentasi, bahkan tak jarang saling mengkafirkan satu sama lain. Entah bagaimana caranya, yang paling penting ialah bagaimana pembaca membenarkan argumentasi mereka.

Sebagai ruang hegemonik, para kaum intoleran menjadikan media sosial untuk membangun wacananya. Post-Truth sebagai fenomena baru dalam media sosial dalam hal ini. Kaum intoleran telah membangun wacananya dengan menenggelamkan bukti atau fakta. Pembaca telah disuguhkan tulisan-tulisan yang kering, bahkan penuh dengan manipulasi fakta. Hal ini menyebabkan emosi menyebabkan terpancing dan akan menyebabkan perpecahan umat. Perpecahan umat ini pada akhirnya melahirkan gerakan ekstrimisme atau radikalisme dalam masyarakat.

Besarnya perang ideologi dan munculnya fenemona post-truth menjadi tantangan sendiri bagi kaum pemuda Indonesia. Rendahnya daya kritis kaum muda membawa mereka terjebak dalam tulisan-tulisan yang kering tadi. Tumbuhnya benih-benih kebencian hingga berembes kepada gerakan ekstrimis dan radikal kaum pemuda. Hal ini menjadikan kaum pemuda seperti anak kecil yang dengan riangnya menirukan apa saja dilakukan superhero idolanya tanpa tanya.

Benar yang dikatakan Hanna Arendt terkait banalitas. Bahwa kejahatan terbesar di dunia ini alah kedangkalan berpikir. Seseorang tidak mampu menganalisis informasi atau perintah apa saja yang diterimanya. Mereka tidak mampu mengimanjinaskan atau memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Kejahatan telah menjadi hal yang wajar bagi mereka, dengan berlandaskan keyakinan (legitimasi atas kebenaran) yang telah dibentuk dari hegemoni post-truth di media sosial. Perpecahan umat, ujaran kebencian, pengungkungan atas setiap ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan mereka menjadi hal yang wajar untuk dilakukan. Padahal persatuan umat sangat dibuthkan untuk melawan segala kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan yang disebabkan oleh kepitalisme-neoliberalisme hari ini.

 

Oleh: Mannawa Faraby (Akuntansi, 2014. Ketua Umum Sema FEB-UH 2017-2018)

Add a Comment

Your email address will not be published.