Puisi Pemenang Writing.com3 “Demo K(r)asi(an)”

Dengan seragam putih berpasang merah hati

berdiri kami rapi, tengok petugas senin

kibarkan bendera, banggakan negara

sejak dini,

dibisikkan kepada telinga-telinga mungil kami

diulang-ulang, diprogram untuk dihapalkan

adalah, pancasila

satu, perihal tuhan yang esa

dua, menyoal adab manusia

tiga, satunya negara

empat, rakyat diwakili dengan bijaksana

lalu, adil yang merata

tapi, apakah semua sudah

hari ini, saat kami sudah dewasa

iming-iming daulat seharusnya kami punya,

pegang dengan sempurna, seutuhnya

kan, milik rakyat, katanya

pasal satu ayat dua

dilaksanakan menurut undang-undang dasar

yang berkarib sahabat dengan pancasila,

yang hari ini kami seolah sudah tidak kenal esensinya

tuhan yang esa,

apakah tentang toleransi agama yang sudah hampir tiada

adab manusia,

apakah termasuk kasus Novel Baswedan yang dicacatkan sebelah matanya

dan, oh, apakah politik yang marah, capres yang semakin hari semakin pamer janjinya,

kemudian kedua pendukung saling lempar rasa bencinya,

apa itu tunjukkan persatuan indonesia

tolong sampaikan,

sudah bijaksanakah perwakilan kita

yang duduk terkantuk-kantuk, saat rapat terlaksana

bahkan, kadang-kadang, dia hilang

seperti aktivis orde baru saja

ah, dan, sialan

adil merata yang mana

adil merata tidak hidup di jalan-jalan nusantara

hari ini,

rakyat miskin semakin menderita

ditekan harga-harga yang terbang tinggi harganya

tapi mereka yang kaya, semakin sejahtera

lalu, keadilan yang mana

berpendapat sedikit saja disangka membantah

apalagi kalau sudah hendak turun dan membela

perihal demokrasi, dilawan demonstrasi

lalu berakhir dikritisi

parah, dieksekusi

padahal, kita semua hanya ingin adilkan merdeka,

dan merdekakan keadilan

jika setiap inci dari semesta Indonesia masih bingung,

perihal pasal satu ayat dua mau dibawa kemana

ya sudah, sampaikan sampai jumpa saja

pada kedaulatan kita.

Oleh : Laili aidina (Manajemen,2017)

Add a Comment

Your email address will not be published.