Brief Review Buku “Sang Penggesek Biola”

Penerbit: Imania

“Kapan toh ada komponis kita yang bisa menciptakan lagu kebangsaan yang bisa menggelorakan semangat rakyat?” (Sang Penggesek Biola~ hal 225)

Sebaris kalimat dari Majalah  Timbul, mengusik rasa kebangsaan Supratman muda. Sebagai orang yang cukup piawai memainkan biola, ia merasa tertantang untuk mencoba menciptakan sebuah lagu kebangsaan.

Tak ada yang bisa menebak.bagaimana hidup kita kelak. Tapi sekali melangkah, maka segala konsekuensi terkait pilihan tersebut harus diterima dengan lapang hati. Demikian juga dengan pilihan hidup Suratman.

Kehidupan Supratman berubah sejak ia ikut kakaknya ke Makasar. Ada yang tidak konsisten pada bagian ini. Pada halaman 15 disebutkan bahwa Supratman cilik meminta ikut kakak perempuannya (dalam kisah ini ditulis dengan istilah mbakyu) dan suaminya ke Makassar. Sementara pada halaman lain disebutkan bahwa meski ingin ikut ke Makassar namun Supratman tidak berani berkata-kata hingga suatu malam kakaknya masuk ke kamarnya dan menyampaikan bahwa ia sudah meminta izin suaminya untuk mengajak sang adik ke Makassar. Tapi bisa ditarik kesimpulan dari perbedaan ini, bahwa Supratman memang sangat dekat dengan kakaknya hingga  ingin ikut ke Makassar.

Di Makasar sang kakak ipar mengajarinya bermain biola. Ternyata Supratman cepat bisa, hingga mendapat kesempatan untuk bergabung pada kelompok musik bernama Black and White Jazz Band milik sang kakak ipar. Banyak keuntungan yang ia dapat dari kemampuannya itu. Termasuk  kerumunan gadis yang mengaguminya.

Pesan Tuan Kwee,  pimpinan surat kabar Sin Po, acap kali membuat Supratman resah. “Yang pasti, jangan sampai tertangkap! Habislah kau kalau mereka berhasil menangkapmu…”. Beberapa rekan wartawan  pernah mengalami nasib tak menyenangkan karena dianggap membuat tulisan yang merugikan pemerintah. Bahkan ada yang sampai patah jari-jarinya, suatu bencana besar bagi seorang wartawan! Beranjak dewasa, kembali, sebuah pilihan harus dibuat. Dan Supratman memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan.

Selama menjadi wartawan, kehidupan Supratman kian berwarna. Dari hanya meliput urusan sepele hingga harus berurusan dengan dinas rahasia kala itu,Politieke Inlinchtingen Dienst-PID, karena dianggap menerbitkan tulisan yang tidak disukai oleh  pemerintah Hinda-Belanda.

Dibandingkan dengan para aktivis pergerakan pemuda lainnya, Supratman merasa perannya sangatlah kecil. Hingga aneh rasanya jika ia sampai menjadi incaran PID. Sebagai wartawan, laporannya tidaklah selugas yang lain. Apa lagi hanya sebagai penggesek biola mengiringi teman-teman bernyayi dan sesekali menciptakan lagu.

Selama ini ia menganggap lagu ciptaannya hanya sebagai hiburan serta penambah motivasi. Ternyata ia salah. Justru karena lagu ciptaannya itu maka ia diburu. Pemerintah menganggap lagu tersebut sebagai salah satu sarana guna  menghasut masyarakat untuk membenci dan memusuhi pemerintah.  Hal itu dilarang hukum. Apa lagi lagu tersebut populer dengan cepat.

Tak pernah terpikir olehnya, lagu tersebut menjadi salah satu sarana pemersatu para anggota pergerakan di seluruh tanah air. Sebuah perkumpulan pergerakan bahkan menyanyikan lagu tersebut setiap kali akan mengadakan pertemuan. Pemerintah saat itu merasa perlu melakukan pengamanan. Mulai dari lirik yang harus diubah, tuduhan plagiat, hingga larangan menyanyikan lagu tersebut dengan posisi tertentu.

Secara garis besar, buku ini bercerita mengenai sosok Wage Rudof Supratman. Sejak kecil hingga berpulang, dari sekolah hingga menjadi wartawan, penggesek biola dan penulis buku. Ada pula bagian yang menceritakan tentang proses kreatif penulisan beberapa lagu. Saat-saat harus bersembunyi karena menghindari kejaran PID. Termasuk, sebagai bumbu penyedap, kisah cintanya dengan beberapa wanita.

Jika dilihat dari daftar isi, akan telihat sebuah informasi yang disajikan dengan cara unik. Misalnya  pada bab tentang Dua Penguntit, di bawahnya akan tercetak tulisan (tahun) 1924, lalu pada Tiga Kota tercetak (tahun) 1929 dan lainnya. Setelah membaca buku ini, pembaca jadi paham bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan penjelasan mengenai waktu terjadinya peristiwa. Tepatnya rentang waktu dalam kehidupan tokoh Supratman

Selain mendapatkan banyak informasi mengenai sosok Wage Rudof Supratman. Juga bagaimana pergerakan kebangsaan pada kurun waktu tersebut, tambahan ilmu mengenai biola  juga diperoleh di halaman 166.

Di buku ini ditemukan adanya penulisan yang berulang pada bagian yang mengisahkan tentang Tuan Kwee memberikan peringatan pada Supratman.  Tepatnya isi halaman 4 dan 5 sama dengan yang ada di halaman 372 dan 373. Entah disengaja  sebagai penekanan atau terlewat saat pengeditan.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, buku ini layak dibaca bagi kaum muda agar lebih mengenal dibalik lagu kebangsaan kita. Serta untuk masyarakat umum untuk menambah rasa cinta tanah air dan menghargai jasa pahlawan.

Add a Comment

Your email address will not be published.