Brief Review Buku “ISLAM KIRI; Jalan Menuju Revolusi Sosial”
Brief Review Buku “ISLAM KIRI; Jalan Menuju Revolusi Sosial”
Buku ini merupakan seri kedua dari tiga seri yang direncanakan oleh sang penulis, Eko Prasetyo, diterbitkan oleh INSISTPress pada tahun 2003. Diawali oleh penegasan penulis tentang keimanan yang kiri yang menjadi pilihannya dan kenapa memilihnya, dan penegasan tentang Revolusi sebagai doktrin perjuangan. Sepanjang buku ini kita akan “digiring” untuk berfikir berdasar realitas sosial yang dipenuhi ketidakadilan hasil rekayasa untuk menuju Revolusi sebagai sebuah alat perjuangan yang nyaris niscaya.
Pada Bab pertama buku ini sang penulis memberi contoh Revolusi sosial dalam dinamika gerakan islam. Penulis mengangkat kisah Revolusi Iran dan Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kedua kisah ini berasal dari akar yang sama; yakin bahwa Islam adalah pembela kaum mustadh’afin (Kaum Tertindas) dan atas dasar itu meniscayakan perlawanan terhadap Tirani yang menindas. Walaupun keduanya memiliki fikih islam yang berbeda, tapi mereka kemudian memilih jalan Revolusi sebagai perjuangan untuk mencapai tujuan.
Pada Bab kedua buku ini penulis menceritakan perkembangan kapitalisme yang dimana sekarang diidentifikasi menjadi sebab kekacauan tatanan peradaban yang sehat, sebagai pihak penindas. Teori-teori yang melandasi beserta tahapan-tahapan evolusi dari kapitalisme dikupas secara fundamental. Penulis menuliskan betapa pemilik modal mempersiapkan dan menggerakkan alat-alat mereka untuk menghegemoni berbagai negara di dunia. IMF dan WTO serta berbagai organisasi sebagai pendonor merupakan alat negoisasi yang ampuh karena mereka berpengalaman dalam bernegoisasi dan dasar-dasar teori “perbaikan ekonomi” yang sebenarnya hampa. Dan MNCs (Multi National Corporations) yang menjadi eksekutornya disaat para negara penerima bantuan kemudian menyerahkan dirinya sendiri untuk dijajah.
Kemudian penulis mengangkat sejarah dan pergulatan konsep Revolusi, dengan contoh Revolusi di dunia dan di Indonesia sendiri. Dengan mengambil benang merah dari berbagai Revolusi yang terjadi di dunia, penulis menyimpulkan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah Revolusi. Yang pertama, kemampuan untuk mengintegrasikan semua kekuatan dalam melawan arus kontrarevolusi, dan yang tak kalah penting adalah dukungan dan keterlibatan negara lain, terutama dalam membantu perekonomian pasca Revolusi. Faktor yang kedua, bagaimana kepemimpinan Revolusioner mampu membangun organisasi-organisasi negara baru yang lebih kuat serta dukungan penuh baik dalam hal perekonomian maupun militer dari luar negeri. Fakto yang ketiga, perubahan-perubahan konfigurasi pada tatanan internasional. Kemudian penulis mengaitkan hal ini pada sejarah perjalanan Revolusi di Indonesia. Dari sejarah ini bahwasanya “KIRI” sangat memberi pengaruh dalam perjuangan kemerdekaan dan dalam membentuk kesadaran para tokoh nasional waktu itu akan perlunya perlawanan atas penindasan.
Pada bab selanjutnya, penulis kemudian mengajukan pernyataan atau teori bagaimana memulai Revolusi Islam Kiri. Tahapan pertama adalah dengan cara mendorong kesadaran keagamaan yanag dimana dari kesadaran magis menuju kesadaran Revolusioner. Yang diamana, kesadaran Revolusioner mengharuskan kita untuk melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh aktor sosial juga struktur global seperti negara, modal dan senjata. Kemudian perubahan sosial yang akan dilakukan mengandalkan kemampuan untuk melihat struktur secara kritis dan mendorong wahyu dalam konteks ‘inspirasi’ dan ‘spirit’ pembebasan. Dengan begitu, perubahan sosial yang dimulai dari kesadaran ini akan berorientasi pada terbentuknya gerakan sosial yang populis. Penulis juga menjelaskan untuk mendorong gerakan islam disini menuju basis massa Revolusioner, yang dilakukan pertama-tama adalah menetapkan beberapa akidah perjuangan dan penguatan organ. Motor utama dalam menggerakkan keduanya adalah ULAMA yang mengambil peran cendikiawan organik. Maka, Indonesia perlu pemimpin yang kuat, yang dapat menjalankan peran sebagai Ulama bagi rakyat tertindas, dan bukan hanya memimpin doa bersama bagi penguasa yang sudah nyata-nyata dzalim.
Akhir kata dari penulisan resensi ini adalah sang penulis mengajak Kaum Muslimin di Indonesia untuk memulai sebuah Revolusi, menyambut dengan busungan dada salah satu Firman-Nya: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami negeri ini
(Mekkah) yang dzalim penduduknya dan berilah kami perlindungan dan penolong di sisi-Mu(An Nisa; 75).
