MAMPUKAH SANG “AKTIVIS” MENJAGA IDEALISMENYA?

Indahnya dunia jika pemudanya masih tahu akan arti dari sebuah perjuangan. (Pramoedya Ananta Toer)”. Mahasiswa menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) merupakan insan-insan calon sarjana yang terlibat dalam suatu intansi perguruan tinggi, di didik serta di harapkan menjadi calon-calon intelektual. Stigma yang muncul ialah ketika menjadi seorang mahasiswa itu tidaklah mudah karena mahasiswa dituntut untuk membawa suatu perubahan yang lebih baik tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

 

Aktivis mahasiswa adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan yang ada di universitasnya. Mereka adalah mahasiswa yang sadar dan mungkin tersadarkan untuk berkontribusi membangun bangsa & negara dengan kampus yang dijadikan sebagai wadah untuk ber-proses dan ikut serta mengambil peran dalam gerakan-gerakan sosial, baik dalam lingkup internal maupun eksternal kampus. Sebagai kaum intelektual mereka sadar bahwa tanggung jawab akademik tentu perlu beriringan dengan tanggung jawab sosial. Orang-orang ini disebut mampu membuat dinamisasi dalam kehidupan kampus, dimana mereka menjadi motor penggerak dan berkontribusi mengawal serta menyikapi isu-isu sosial yang bermunculan.

 

Hal empirik yang sering ditunjukan oleh aktivis mahasiswa adalah sikap idealismenya, kritisnya, pembelaan pada kaum lemah, bahkan sikap militansinya, yang dimana itulah beberapa indikator manifes yang melekat pada mahasiswa aktivis. Seringkali para aktivis dipandang berhasil memperjuangkan idealismenya. Misalnya memperjuangkan keadilan dan melawan penggusuran, memperjuangkan pembongkaran kasus korupsi, menolak kebijakan mengenai kenaikan harga BBM, dominasi asing, membengkaknya hutang negara, berbagai pelanggaran HAM, dll.

 

Persoalan yang kemudian muncul adalah ketika para aktivis mahasiswa telah wisuda, dapatkah mereka mempertahankan idealisme mereka? apakah dengan mempertahankan idealismenya dapat memudahkan mereka untuk menghidupi diri dan keluarganya nantinya? tak dapat di pungkiri bahwa orang tua menguliahkan anaknya agar kelak ia menjadi orang yang “sukses”, melanjutkan tongkat estafet yang telah dirintis terlebih dahulu oleh orang tuanya bahkan diharapkan lebih dari pada itu.

 

Di luar sana, lowongan pekerjaan perusahaan mengutamakan calon tenaga kerja yang berpengalaman, serta terdapat minimal umur bagi pelamar pekerjaan. Mantan aktivis mahasiswa dihadangi dengan persoalan dimana kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang lulusnya lama, belum bertambahnya syarat lain seperti IPK minimal. Kebanyakan perusahaan juga tidak terlalu menyukai mantan aktivis mahasiswa karena khawatir dengan ide-ide progresif yang ditakutkan dapat mengganggu ritme perusahaan.

 

Sebagian dari mantan aktivis mahasiswa yang menyadari urgensi penyalah gunaan potensi yang terdapat dalam dirinya menolak menyerah dalam pelukan sistem yang ada. Bahkan memilih bergabung dengan partai untuk menjadi caleg yang akan berkontribusi dalam parlemen. Kemudiaan permasalahan muncul dalam dirinya, apakah ia mampu berkonsisten untuk memegang teguh ideologi yang telah terbangun dari dulu? yakni orang yang berdiri digaris depan untuk menyuarakan kegelisahan kaum-kaum lemah, pada saat itu dipundak mereka bertengger tanggung jawab yang amat berat. Bahkan tak banyak dari mereka yang pada akhirnya menjilati ludahnya sendiri, karena tergiur akan kekuasaan yang akan menguji iman dan konsistensi mereka dalam mengawal nasib orang-orang yang tertindas dikarenakan suatu kebijakan. Belum lagi adanya tekanan dan kepentingan-kepentingan partai yang kian bermunculan. Mampukah sang mantan aktivis mahasiswa menghadapinya?

 

Terdapat plihan lain yaitu menjadi jurnalis, jika sebelumnya para mantan aktivis terbiasa menjadi narasumber yang sering berbicara tentang kebenaran dan keadilan, kini mereka harus mewawancarai dan menulis komentar oranglain tanpa boleh mengubah bentuk. Tak cukup sampai disitu, sang jurnalis baru juga berhadapan dengan kerumitan editorial, agenda setting, dan yang paling sering terjadi adalah kepentingan media.

 

Apakah para mantan aktivis mahasiswa akan menyerah dengan sistem yang ada? apakah ketika mereka lulus sang mantan aktivis mahasiswa yang katanya idealis akan dipaksa menjadi sosok yang realistis oleh sistem yang ada?

 

Oleh:

FADEL

Departemen Kajian Isu Strategis dan Advokasi

Senat Mahasiswa FEB-UH 2018-2019

 

Add a Comment

Your email address will not be published.