Notulensi Kapsul Bagian 4

Notulensi 4

Kampus mulai melakukan kerja sama dengan pihak swasta, semisal dalam beasiswa dan pembangunan kampus. Sekarang bukan lagi bagaimana menyadarkan relaitas masyarakat hari ini, tetapi untuk memuaskan pihak swasta dkarenakan sudah banyak investasi investasi yang masuk ke pihak kampus dari pihak korporat. Siapa kita yang mau melawan sistem? Hal tersebut berangkat dari hakikat kita sebagaimana manusia yang bergerak atas apa yang difikirkan oleh akalnya, untuk keluar dari penindasan sistem yang ada hari ini.

Miris sebenarnya melihat keadaan hari ini, yang kemudian menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaiki. Ketika lembaga yang hadir untuk menyadarkan orang-orang yang sadar, bahkan pihak dalam lembaga pun masih sangat banyak yang acuh. Data-data yang sudah disediakanpun masih saja mengalami kemunduran dalam kepedulian teman teman terkait keadaan kita hari ini.

Ketika kita berbicara kampus, di sinilah tempat lahirnya teori-teori, lahirnya pemikiran kita dalam melihat kebenaran, dalam melihat sesuatu lebih dalam. Kemudian kegiatan diskusi yang selalu diadakan masih saja selalu mengalami pengurangan, merasa semuanya akan baik-baik saja, ‘serahkan kepada yang diatas’, sangat ditakutkan kita masih saja berada pada kesadaran magis. Juga merasa kita sedang tidak baik-baik saja, tapi tidak memiliki kesadaran untuk melakukan pergerakan. Sangat naif.

Bayangkan pada 5 golongan UKT hal ini bahkan akan menuju krisis ekonomi, dan yang mempengaruhi pemasukan unhas yang paling signifikan adalah UKT. Sehingga sangat memungkinkan untuk pihak kampus untuk menutupi kekurangan keuangannya dengan menaikkan UKT mahasiswa, sehingga akan berdampak pada adik-adik kita untuk menjangkau universitas. Terlebih program beasiswa yang hari ini sakit, yang bisa saja anak dari anggota legislatif untuk beasiswa yang diperuntukkan untuk yang kurang mampu.

Pada negara Italia penindasan kekuasaan yang berjalan satu arah, mahasiswa mulai melakukan pergerakan. Kurikulum yang disusun hanya untuk mengisi kekosongan korporat, untuk memajukan korporatnya, tidak pada membangun peradaban, merefleksikan kepada masyarakat yang seharusnya, sehingga tidak lama rezim tersebutpun runtuh. Begitupun pada negara Chile, yang pergerakan mahasiswanya mulai melakukan pergerakan untuk mencapai pendidikan gratis, jelas itu tidak mudah. .

Apa yang kita lakukan hari ini belum konkret, tapi kita harus terus melakukan pergerakan

Kakunya kajian, pembahasan revolusi yang selalu saja disampaikan sebelumnya, tapi seperti yang kita liat sekarang orangnya hanya lebih dari 10 orang. Inikah revolusi itu. juga Generasi moral pada penghuni kampus. Kita tidak bisa menghubungkan pergerakan chile dan argentina dengan keadaan Indonesia yang berbeda historis  terhadap kedua negara tersebut. Dan kita mahasiswa sudah terlalu sering merefleksikan kurang dalam ranah praksis.

Sudah sering diadakan kajian, dengan berbagai metode tapi selalu saja mengalami penurunan, masih sangat kurang. Semua orang hadir atau tidak semuanya sebenarnya sudah paham bahwa dampak yang sangatbesar dari PTN BH ini, akan tetapi kurangnya solusi yang bisa di berikan dibanding dengan terus melakukan kritikan.

Yang perlu dipertanyakan sebenarnya apa yang harus dilakukan, apa langkah konkret yang bisa dilakukan. Tidak masalah kita terus mengkawal-mengkaji, meski selalu saja kita tidak menemukan solusi yang tepat.

Merefleksikan itu bukan alternatif, sampai kapan? apakah sampai UKT itu sebanyak 20 juta?

Sejarah menjadi jawaban kita kedepannya, tidak menutup kemungkinan negara Chile sama siatuasinya pada saat itu dengan keadaan kita hari ini. Tidak ada salahnya ketika kita terus merefleksikan, dengan hanya penyampaian aspirasi, dibandingkan hanya DIAM, jangan berputus asa!—

Add a Comment

Your email address will not be published.