PERSAUDARAAN AGAMA-AGAMA MILLAH IBRAHIM dalam Tafsir AL-MIZAN

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS. Al Hujurat :10)”Dan berpegang tegulah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermush-musuhan maka dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikiianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk (QS. Ali Imron : 103) Judul buku ini telah menarik perhatian saya. Mulanya saya hanya berfikir untuk membaca tiga halaman dari buku ini namun setelah itu jari jemari saya secara perlahan membuka lembaran- lembaran berikutnya hingga akhirnya saya membaca penutup dari buku ini. Begitu banyak hal yang sebelumnya saya tidak ketahui mengenai sejarah atau awal mula agama itu lahir dan bagaimana pemikiran-pemikiran atau pandangan setiap agama tersebut. Buku ini membahas banyak hal
mengenai tiga agama besar, namun mungkin saya hanya menulis sebagian dari isi buku ini yang menarikperhatian saya, Buku karya Waryono Abdul Ghafur merupakan buku yang membahas tiga agama besar di dunia dan merupakan agama yang memiliki penganut paling banyak dan tentunya paling sering terlibat konflik dalam sejarah. Tiga agama tersebut merupakan agama samawi yaitu Agama Yahudi, Kristen dan Islam yang nota bene para pembawa dan penyiarnya adalah keturunan biologis Nabi Ibrahim. Penulis buku ini lebih memfokuskan konsep agama dengan tafsiran al-Thabathaba’i yang panggilan populer bagi penulis al-Mizan fi tafsir al-Qur’an. Melalui tafsiran Thabathaba’i penulis mencoba memberi pemahaman utuh akan arti persaudaraan agama-agama yang merupakan agama turunan dari nabi ibrahim. Nabi ibrahim a.s adalah abul-anbiya atau bapaknya para nabi, disebut demikian karena dari kedua anaknya yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq lahirlah para nabi diantaranya yaitu Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Daud Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad. Sebagaimana diketahui bahwa tiga agama yaitu, Yahudi, Nasrani dan islam merupakan agama yang secara biologis bermuara pada Ibrahim. Yahudi yang dibawa oleh Musa melalui jalur Ya’qub-Ishaq-Ibrahim, Kristen dibawa oleh Isa melalui jalur Ya’qub-Ishaq-Ibrahim dan Islam dibawa oleh Muhammad melalui jalur Ismail-Ibrahim. Ketiga agama tersebut megklaim telah meneruskan ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Nabi yang terakhir adalah Nabi Muhammad yang membawa agama islam dengan kitabnya Al-Qur’an, dari fakta ini kita dapat menyimpulkan bahwa agama islam merupakan bentuk final dari ajaran yang diabawa oleh nabi terdahulu.Meski ketiga agama tersebut mengklaim telah meneruskan dan memelihara agama Ibrahim, tidak menutup kemungkinan terjadinya penyimpangan terutama secara normatif. Berikut pandangan ketiga agama mengenai sosok Nabi ibrahim.
Dalam agama Yahudi, ibrahim dipercaya sebagai yang pertama dari ketiga bapak bangsa mereka menyebutnya (patriakh). Ibrahim dipandang sebagai monoteis sejati yang menolak adanya Allah yang lain. Oleh karena itu, agama Yahudi dikenal sebagai agama pertama di dunia yang memperkenalkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Tidak berbeda dengan agama Yahudi, agama Kristen juga memeiliki kepercayaan yang sama menegenai ibrahim namun dengan bahasa yang berbeda. Dalam kepercayaan Kristen, Abraham dijuluki sebagai bapak beriman yang dikenal sebagai tokoh pertama yang mengenal Satu Allah. Abraham merupakan figur pertama dalam sejarah monoteisme. Demikian juga islam yang di bawa oleh Muhammad, ibrahim diyakini sebagai hanifan muslima yang berarti mengikuti kebenaran jalan hidup yang asli, primordial dan perenial, yang tidak berubah sepanjang masa dan berpangkal pada keyakinan terhadap Tuhan yang tunggal, di Al- Qur’an dikenal dengan al-din al-qayyim. Namun walaupun ketiga agama tersebut menganggap nabi ibrahim sebagai Bapak Monoteis, ketiga agama tersebut tetap saja mengaggap dirinya sebagai pewaris sah dari agama ibrahim atau millah ibrahim. Apa sih itu agama ibrahim atau millah ibrahim?? Sebenarnya millah ibrahim adalah istilah sebagai bagian dari al-Qur’an yang tentunya tidak luput dari perhatian dari mufasir untuk menafsirkan millah ibrahim itu sendiri. Berikut penjelasan mengenai millah ibrahim menurut beberapa mufasir. Dalam tafsiran Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud millah ibrahim adalah istikamah dengan islam dan syariat-syariat yang ada didalamnya. Sementara itu al-Maraghi berpendapat bahwa millah ibrahim adalah agama sebagaimana yang dianut Muhammad dan para pengikutnya, yaitu yang mengajarkan beriman kepada Allah, al-Qur’an dan agama yang diajarkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq Ya’qub dan nabi- nabi lainnya. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha menjelaskan bahwa agama yang mesti manusia anut adalah agama ibrahim yang murni dalam bertauhid dan ihsan dalam beramal dan tanpa adanya kemusyrikan. Agama seperti itulah yang diajarkan oleh semua nabi dan rasul. Dengan demikian, siapapun tidak berhak mengklaim sebagai Muslim kalau belum memiliki kepercayaan dalam praktik seperti para nabi tersebut. Dia menekankan lagi bahwa, agama Allah dalam esensi dan pinsip- prinsipnya adalah tunggal tidak ada pertentangan dan perbedaan, Ruh dari semua itu adalah millah Ibrahim. Karena itu menurutnya, yang lebih penting dalam islam bukan bagaimana orang Islam berbeda dengan orang non-Islam dalam keseharianya. Yang lebih dari itu adalah ikhlas, cinta pada kebaikan, adil dan moderat dalam berbagai hal. Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekitar 4000 tahun yang lalu. Keberadaannya begitu sangat di junjung oleh agama Yahudi, Kristen dan Islam. Dia memiliki posisi yang sangan istimewa dalam barisan para nabi. Ia juga nabi yang dipilih Allah yang keyakinan dan praktik keberagamannya dijadikan sebagai contoh, model atau teladan bagi nabi-nabi sesudahnya. Begitu istimewanya, Ibrahim diabadikan dalam al-Qur’an dan menjadi salah satu surah dalam kitab suci terakhir tersebut. Petualangan hidup nabi Ibrahim tidak lah mudah, begitu banyak rintangan yang dihadapinya untuk mencapai sebuah kebenaran dan mendapatkan sebuah gelar kenabian. Nabi Ibrahim lahir dan tumbuh dewasa di tengah para masyarakat yang kesehariannya menyembah berhala,menyembah bintang-bintang yang kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk patung. Seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an, nabi Ibrahim memiliki kecerdasan dan daya kritis. Sejak kecil ia selalu bertanya-tanya kepada ayahnya mengenai patung atau berhala yang sering disembah ayahnya. Ia mengemukakan bahwa hal yang dilakukan ayahnya itu tidaklah berguna dan suatu tindakan yang sesat. Namun hal itu belum dapat di jelaskan olehnya mengenai kesesatan
ayahnya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, akalnya mulai matang dan pengetahuannya bertambah, membuat ibrahim mampu mengukapkan alasan kesesatan ayahnya. Ia memberitahu ayahnya bahwa berhala yang sering disembahnya itu tidaklah mendengarnya ketika berdoa dan tidak pula memberinya manfaat atau mudarat. Dan ia mengemukakan bahwa Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakanmu, dialah tuhan yang memberi makan dan minum, menyembukan sakit dan mematikan yang hidup dan dapat menghidupkan yang telah mati dan yang akan mengampuni kesalahanmu pada hari kiamat. Selain itu ia mengemukakan bahwa bintang-bintang yang sering disembah oleh kaummnya dalam wujud patung yang dibuatnya tidaklah memiliki peran apa-apa. Belum menjelaskannya dengan logis dan ia berkata kepada kaumnya bahwa “aku serinng memandang langit dan memperhatikan apa yang di sekitarnya. ketika malam telah tiba aku melihat bintang, aku menganggap bahwa itu adalah tuhanku. Tapi taktalah bintang itu tenggelam dan aku tidak suka kepada yang tenggelam. Dan kemudian aku melihat bulan terbit menurutku itu adalah tuhanku, namun tiba-tiba bulan itu terbenam dan menghilang,sesungguhnya itu bukanlah tuhanku. aku melihat matahari terbit bersinar dan juga besar, ini adalah tuhanku, tetapi matahari itu terbenam juga. Wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dan sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Namun penjelasan nabi ibrahim tersebut tidaklah diterima oleh kaumnya, sehingga pada suatu ketika nabi ibrahim menghancurkan semua patung kecuali patung yang besar, hal itu dilakukan untuk menjelaskan kepada kaumnya bahw patung yang besar sekalipun tidak mampu berbuat apapun ketika nabi ibrahim menghancurkan patung yang lainya. Perbuatan nabi ibrahim tersebut membuatnya harus dibakar, namun hukuman ibrahim tidaklah berhasil dan ibrahim segera pergi meninggalkan kampung halamanya menuju ke baitul maqdis.
Millah ibrahim atau agama ibrahim mempunyai nilai-nilai dasar yang terangkum dalam
kalimat “kalimatun sawa” yaitu sebagai petunjuk bahwa keberadaan kalimat tersebut sebenarnya berlaku di antara orang-orang yang mengaku sebagai Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ungkapan tersebut memberi makna bahwa tunduk, mengakui, menyebarkan dan menyiarkan kalimat tersebut sebagai kesepakatan bersama. Dalam konteks hubungan antara yahudi, nasrani dan islam, kalimat sawa’ berarti bahwa al-Qur’an , Taurat, dan Injil memiliki kesamaan universa yaitu kalimat tauhid alla na’buda ilallah, illahuna wa ilahukum washid, amanna unzila ilaina wa unzila ilaikum dan nahnu lahu muslimu (kami tidak menyembah kecuali Allah; Tuhan kami dan tuhan kalian adalah esa; Kami beriman kepada kitab yang kami terima dan kitab yang kalian terima; Kami semua adalah Muslim). Kalimat tersebut dapat dijadikan standar keberagaman orang-orang Yahudi, Nasrani atau bahkan umat yang mengkalim sebagai ummat Muhammad. Agama allah itu tunggal yaitu agama tauhid dan itulah agama ibrahimdan wajib diikuti oleh semua manusia. Mengenai ketiga agama besar dari kuturan nabi ibrahim, didalam buku lebih memfokuskan pada perilaku agama Yahudi dan Nasrani. Yahudi adalah agama pertama dari keturunan nabi ibrahim yang bawa oleh nabi Muda dengan kitabnya Taurat. Dalam agama yahudi memiliki pandangan agama yang sama dengan orang Nasrani, tetapi ada juga yang berbeda. Padangan yang sama diantara keduanya yaitu mengenai mereka sebagai “anak-anak Tuhan dan para Kekasihnya”, sedangkan yang berbeda adalah mengenai tangan Allah yang terbelenggu. Agama Yahudi paham bahwa Allah memiki anak, dalam kepercayaanya anak tuhan yang dimaksud adalah Uzair. Orang Yahudi mengkleim dirinya memiliki keistimewaan dari Allah, sehingga dengan percaya diri, mereka tidak akan mendapatkan perlakuan buruk, baik ketika didunia maupun di akhirat. Klaim inilah yang menyebabkan mereka menjadi curkan patung yang lainya. Perbuatan nabi ibrahim tersebut membuatnya harus dibakar, namun hukuman ibrahim tidaklah berhasil dan ibrahim segera pergi meninggalkan kampung halamanya menuju ke
baitul maqdis. Millah ibrahim atau agama ibrahim mempunyai nilai-nilai dasar yang terangkum dalam kalimat “kalimatun sawa” yaitu sebagai petunjuk bahwa keberadaan kalimat tersebut sebenarnya berlaku di antara orang-orang yang mengaku sebagai Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ungkapan tersebut memberi makna bahwa tunduk, mengakui, menyebarkan dan menyiarkan kalimat tersebut sebagai kesepakatan bersama. Dalam konteks hubungan antara yahudi, nasrani dan islam, kalimat sawa’ berarti bahwa al-Qur’an , Taurat, dan Injil memiliki kesamaan universa yaitu kalimat tauhid
alla na’buda ilallah, illahuna wa ilahukum washid, amanna unzila ilaina wa unzila ilaikum dan nahnu lahu muslimu (kami tidak menyembah kecuali Allah; Tuhan kami dan tuhan kalian adalah esa; Kami beriman kepada kitab yang kami terima dan kitab yang kalian terima; Kami semua adalah Muslim). Kalimat tersebut dapat dijadikan standar keberagaman orang-orang Yahudi, Nasrani atau bahkan umat yang mengkalim sebagai ummat Muhammad. Agama allah itu tunggal yaitu agama tauhid dan itulah agama ibrahimdan wajib diikuti oleh semua manusia. Mengenai ketiga agama besar dari kuturan nabi ibrahim, didalam buku lebih memfokuskan pada perilaku agama Yahudi dan
Narani. Yahudi adalah agama pertama dari keturunan nabi ibrahim yang bawa oleh nabi Muda dengan kitabnya Taurat. Dalam agama yahudi memiliki pandangan agama yang sama dengan orang Nasrani, tetapi ada juga yang berbeda. Padangan yang sama diantara keduanya yaitu mengenai mereka sebagai “anak-anak Tuhan dan para Kekasihnya”, sedangkan yang berbeda adalah mengenai tangan Allah yang terbelenggu. Agama Yahudi paham bahwa Allah memiki anak, dalam kepercayaanya anak tuhan yang dimaksud adalah Uzair. Orang Yahudi mengkleim dirinya memiliki keistimewaan dari Allah, sehingga dengan percaya diri, mereka tidak akan mendapatkan perlakuan buruk, baik ketika didunia maupun di akhirat. Klaim inilah yang menyebabkan mereka menjadi masyarakat yang sombong dan rasialis, bahkan sampai sekarang. Allah telah mengikat janji antara nabi dan ummatnya. Janji tersebut mengenai kan mendukung dan mengakui nabi-nabi yang datang sebelumny dan datang sesudahnya. Nabi menyatakan bahwa para nabi adalah saudara tak sekandung, ibu-ibu mereka berlainan, tetapi agama mereka satu. Namun orang Yahudi mengingkari fakta tersebut, mereka tidak mengakui nabi dan ajaran yang datang sesudahnya dan bahkan mereka ingin orang yang beriman mengikuti model hidup mereka. Namun didalam al-qur’an tepatnya dalam QS. al-Baqarah, orang yahudi dibagi dalam dua golongan, golongan yang pertama yaitu; orang- orang yahudi yang tidak benar-benar membaca kitabnya dan lebih banyak mengikuti hawa nafsu dan pikiranya. Golongan pertama ini selamanya tidak akan rela terhadap orang yang beriman.
Golongan kedua yaitu mereka yang benar-benar membaca kitab sucinya dan mempercayai bahwa apa yang terdapat dalam al-Qur’an adalah sama dengan apa yang mereka terima, sehingga mereka akan beriman kepada Muhammad . petunjuk al-Qur’an dan Taurat lah yang benar sebagai petunjuk Allah. Mengenai kitab orang Yahudi, Al- Qur’an tidak menjelaskan secara detail bagaimana struktur dan susunan Taurat, kecuali beberapa keterangan yaitu taurat yang pernah diturunkan Musa telah dibakar oleh Nebudkadnezar, peguasa Babilonia pada pertengahan abad 7 S.M. Taurat ditulis kembali dan diedit oleh Uzair. Kitab suci yang kemudian diakui dan beredar di kalangan Yahudi
terdiri dari 35 kitab. Agama yang dibawa oleh Isa memiliki beberapa nama seperti Nasrani, Kristen dengan kitabnya Injil. Nama Isa berasal dari bahasa arab dan dalam bahasa ibrani dipanggil Yesu’ atau Yesua hingga kemudian menjadi Yesus (bahasa latin). Al- Qur’an menjelaskan bahwa isa adalah laki-laki suci dan rahmat dari Allah, seorang yang sangat patuh kepada ibunya dan pasrah kebada al-kitab, hikmah, taurat dan injil. Agama Nasrani percaya terhadap paham trinitis yaitu satu dalam tiga atau tiga dalam satu. Orang-orang nasrani menganggap bahwa isa adalah anak tuhan dan percaya pada satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga yaitu bapa, anak dan ruhul kudus. Mereka menganggap isa atau yesus adalah tuhan, padahal faktanya isa tidak pernah menyatakan dirinya Tuhan, justru isa menganggap dirinya adalah manusia yang diberi keistemewaan dari Allah dan merupakan utusan Allah. Perbedaan orang Yahudi dengan orang Nasrani yaitu, perilaku orang Yahudi telah menyimpang dari apa yang telah diperintahkan, mereka menganggap dirinya paling hebat, mereka sombong dan selalu melanggar, namun dalam perilaku orang nasrani mengajarkan kebaikan dan larangan-larang yang juga terdapat dalam al-Qur’an, namun orang nasrani telah menyimpang mengenai ketauhidtan.
Melalui buku ini, kita dapat mengenal Millah Ibrahim sebagai paradigma berpikir dan
berteologi untuk menelaah dan mengukur praktik keagamaan umat beragama. Paradigma ini dapat dijadikan sebagai tali pengikat persaudaraan agama-agama, terutama agama yang secara geologis muncul dari tradisi ibrahim. Tali pengikat persaudaraan ini penting, karena “anak-anak ibrahim” sering lupa dengan statusnya, yaitu sebagai saudara seagama.
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari serang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kamuberbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13)”

“Mendengarlah dengan telinga yang toleran, melihatlah melalui belas kasihan, berbicaralah dengan bahasa cinta –Jalaludin Rumi”

“Lihatlah keburukan pada dirimu, dan lihatlah kebaikan yang ada pada orang lain – Ali bin Abi Thalib”

Oleh : Risna Zulfiana ( Anggota Kastrad Sema FEB-UH 2019/2020)

Add a Comment

Your email address will not be published.