Resensi Buku :Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan
Resensi Buku :Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan
Saya tertarik membaca dan membedah buku ini karena dari halaman sampulnya saja sudah menarik. “Cantik itu Luka” begitulah judul buku yang tertera di halaman sampulnya. Dengan sebuah gambar seorang perempuan yang duduk, tersenyum, namun ekspresinya tajam kearah pembaca. Dengan judul dan gambar sampul seperti ini, saya sebenarnya dibuat bertanya- tanya apa maksud isi buku ini sendiri. Apalagi, di bagian bawah sampul di iming-iming akan segera terbit dalam bahasa inggris. Dan tentunya, ini adalah sebuah novel, jadi ketika membacanya, para pembaca tidak perlu khawatir merasa bosan, cepat atau lambat, anda akan terbawa pada suasananya.
Cantik itu Luka telah di terbitkan beberapa kali dan telah di jual sebanyak lebih dari ratusan eksemplar. Diterbitkan pertamakali oleh penerbit AKYPress lalu penerbit kedua adalah penerbit Jendela, mulai pada tahun 2002 dan masih eksis hingga sekarang. Bahkan sudah diterjemahkan kedalam bahasa Malaysia dan Jepang, membuat Cantik itu Luka menjadi buku yang sudah bernaung di kancah internasional.
Awalnya, saya mengira buku ini adalah buku non-fiksi, terlihat dari sinopsis yang terdapat di bagian belakang buku :
Di akhir masa colonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu
terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika
mengandung anaknya yang keempat….
Namun, semakin menelusuri isi buku ini, saya terheran-heran dengan genre buku ini sendiri. Ternyata genre buku ini memadukan hal non-fiksi bersama fiksi, sehingga pembaca akan lebih berfantasi didalamnya. Dimana Eka menceritakan kota Halimunda, yang terdapat di Indonesia, namun sebenarnya kota itu hanyalah khayalan Eka semata. Dikatakan pula bahwa tokoh utama : Dewi Ayu, bangkit dari kuburnya setelah 21 tahun kematiannya. Sebuah buku yang akan membuat kita bertanya-tanya bagaimana akhirnya. Kasar, gila, gelap, dan penuh dengan adegan seksual, begitulah buku ini tergambarkan. Tidak mengherankan, memang begitulah cara bermain Eka Kurniawan dalam setiap karyanya. Sehingga saya menyarankan, buku ini kurang cocok apabila di berikan kepada anak-anak yang masih dibawah umur. Walaupun sebagian orang mengatakan tidak masalah. Sangat gamblang dalam bercerita, sehingga kalian akan menemukan kata-kata seperti ‘pelacur, tai, nafsu birahi, kemaluan , dan semacamnya’ ada di buku ini.
Perlu diketahui sebelumnya bahwa Eka Kurniawan adalah lulusan Filsafat UGM, sehingga buku-bukunya yang hadir termasuk Cantik itu Luka penuh dengan analogi dan maksud tersembunyi dari setiap katanya. Tidak seperti kita seperti membaca novel biasa, namun harus dimaknai lebih mendalam lagi. Apalagi bahasa-bahasa yang dihadirkan adalah bahasa-bahasa yang kurang dimengerti oleh masyarakat Millennials seperti gundik, jongos, dan ajak.
Eka Kurniawan menceritakan Cantik itu Luka dalam sudut pandang orang ketiga. Betul -betul seperti karya Eka kebanyakan, dan begitupula sehingga ia sangat piawai dalam menceritakan penokohan di dalam buku ini. Buku ini menurut saya bukan adalah novel biasa, karena tidak seperti novel kebanyakan, yang pemeran utamanya diceritakan dari awal cerita hingga akhir , namun semua tokoh diceritakan dengan baik oleh Eka dalam buku Cantik itu Luka.
Dewi Ayu adalah tokoh utama dari buku ini, kemudian Eka sendiri memiliki porsi yang dominan bagi Dewi Ayu, tetapi tidak melulu dari sudut pandang Dewi Ayu yang ia ceritakan. Kadang, dipertengahan bab, diceritakan pula Alamanda, anak pertama Dewi Ayu, Adinda anak keduanya, hingga anak terakhirnya, anak keempat, yakni Si Cantik. Bahkan tidak hanya keempat anaknya, menantu-menantunya pun diceritakan dalam porsi yang sama.
Pesan moral yang saya tangkap dari buku ini ada banyak. Dan yang paling inti adalah bahwa tidak selamanya cantik itu adalah gairah hidup. Kadang, cantik pula bisa menjadi luka bagi orang lain, ataupun mereka yang memiliki tubuh cantik. Cantik adalah tombak yang bisa membunuh kapan saja, dan siapa saja, dan sebab itulah, cantik itu luka.
Oleh : Muh. Fadel Dwi M